Sunday, 2 January 2011


Taubat seorang hamba akan diterima dengan tiga syarat: penyesalan atas dosa yang diperbuat, berhenti dari melakukannya, dan bertekad untuk tidak mengungi lagi (dan yang keempat: mengembalikan kedzaliman yang telah ia lakukan pada pemiliknya jika dosanya berkaitan dengan hak-hak manusia). Taubat wajib dilakukan sebelum masanya berlalu.
Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah: Maksud dari penyesalan yaitu menyesali dosanya yang telah lalu. Berhenti yaitu menghentikan dosanya ketika itu juga. Tekad maksudnya bertekad untuk tidak mengulanginya di waktu yang akan datang"[1].
Nabi bersabda: "Setiap anak Adam punya kesalahan. Sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat"[2]

Wajib hukumnya untuk menyegerakan taubat. Imam Ghazali rahimahullah berkata: "Aku mengetahui bahwa peminum racun yang menyesal, wajib baginya untuk segera muntah dengan mengeluarkannya dari perut, (kalau demikian halnya), maka meneguk racun agama yaitu (dosa) adalah lebih layak untuk dibatalkan dengan segera menghentikannya"[3]

Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah: "Perhatian seorang hamba terhadap dosanya  akan mendorongnya untuk meninggalkannya. Penyesalannya akan menjadi pembuka taubatnya. Seorang hamba senantiasa memperhatikan dosa-dosanya hingga hal itu lebih bermanfaat dari sebagian kebaikannya"[4].
Berkata Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah: "Sesungguhnya amalan anak Adam itu di angkat. Apabila yang terangkat adalah lembaran yang terdapat padanya istighfar, maka ia berwarna putih. Sebaliknya jika tidak ada istighfar didalamnya, maka ia berwarna hitam"[5].
Istighfar adalah sifat seorang mukmin. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Permisalan seorang mukmin adalah seperti sumbulah (bulir/padi dsb), terkadang lurus dan terkadang landai. Permisalan orang kafir adalah seperti urzah (jenis tumbuhan), selalu dalam keadaan lurus sampai ia jatuh dan tidak merasa"[6].

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Wahai manusia, bertaubat dan mohon ampunlah kalian pada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali"[7].
Jika beliau saja masih memohon ampun pada Allah padahal telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, maka kita adalah lebih-lebih lagi, padahal kita telah bergelimang dalam dosa.
Perhatikan bagaimana Allah senang dengan taubat hamba-Nya, padahal hal itu tidak memberikan manfaat maupun mudharat bagi Allah. Nabi bersabda: "Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di tanah lapang, lalu hewan tadi menghilang darinya, padahal makanan dan minumannya ada di situ, maka si pemilik hewan tadi putus asa, lalu ia berbaring di bawah sebuah pohon, tiba-tiba hewan tadi muncul, lalu ia memegang tali kendalinya, lalu berkata: "Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah hamba-Mu. Ia keliru saking gembiranya"[8].
Bersegera untuk bertaubat adalah wajib hukumnya, karena mengakhirkan taubat sendiri memerlukan taubat. Berkata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : "Hal ini jarang terbetik dalam fikiran, bahkan ia beranggapan bila telah bertaubat, tidak tersisa lagi sesuatu yang lain, padahal ia masih perlu bertaubat dengan sikapnya mengakhirkan taubat"[9].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: "Terkadang aku terhenti pada suatu masalah yang tidak bisa aku pecahkan, lalu aku beristigfar pada Allah Ta'ala kurang lebih seribu kali, sampai jiwaku menjadi lapang kembali dan masalah tadi terselesaikan, ketika itu terkadang aku berada di pasar, masjid atau sekolah. Hal itu tidak menghalangiku untuk berdzikir dan istighfar hingga aku mendapatkan apa yang aku cari"[10].
Yang paling aku takutkan pada seseorang adalah mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membinasakan pelakunya dari arah yang tidak ia sangka. Dalam sebuah atsar bahwa Iblis berkata: "Aku membinasakan bani Adam dengan dosa-dosa. Dan mereka membinasakanku dengan istighfar dan Laa ilaaha illallah. Ketika aku menyadari hal itu, aku tiupkan pada mereka hawa nafsu, sehingga mereka melakukan dosa dan tidak bertaubat, karena mereka menyangka melakukan amalan dengan sebaik-baiknya"[11].
Yang menyebabkan mereka tidak bertaubat adalah sebagaiman dikatakan oleh Yahya bin Mu'adz: "Panjang angan-angan. Tanda orang yang bertaubat adalah: tetesan air mata, suka menyendiri,dan melakukan muhasabah/introspeksi diri dalam ketika fikiran tergerak untuk melakukan sesuatu"[12].

Jika tanda-tanda di atas tidak ada, maka berarti itu adalah istidraj . 'Uqbah bin Nafi' berkata bahwa nabi bersabda : "Jika engkau melihat Allah Ta'ala menganugrahkan pada seorang hamba karunia dunia apa yang ia cintai, tetapi ia tetap dalam kemaksiatan, maka berarti itu adalah tipu daya"[13].
Dari Abu Musa AS bahwa nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah menangguhkan pada orang yang dzalim, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia tidak dapat melepaskan diri. Kemudian beliau membaca :

"Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras"  (Q.S Huud : 102)[14]

          Kalau demikian halnya, maka sudah seharusnya bertaubat nashuha dari segala anggota badan. Berkata Al-Muhasibi rahimahullah: "Taubatnya mata adalah dengan menahannya dari memandang apa yang diharamkan. Taubat pendengaran yaitu dengan menahannya dari mendengarkan sesuatu yang diharamkan. Taubatnya tangan yaitu dengan menahannya dari menggunakannya untuk sesuatu yang haram. Taubatnya kedua kaki yaitu dengan menahannya dari berjalan untuk sesuatu yang haram. Taubatnya kemaluan yaitu dengan menahannya dari perbuatan zina. Begitulah seluruh anggota badan lainnya termasuk akal fikiran, ada taubatnya, yaitu dengan menahannya dari memikirkan sesuatu yang diharamkan. Lisan juga bertaubat, dengan tidak menyeru pada sesuatu yang dimakruhkan"[15].
        Maksiat akan menghalangi ketaatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri: "Jika engkau tidak mampu untuk shalat di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketauhilah bahwa engkau terhalangi. Kesalahan dan dosa-dosa telah mengikatmu"[16]
        Abdullah bin Mubarak berkata: "Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalanginya ia dari amalan-amalan sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalangi dari apa-apa yang diwajibkan. Barangsiapa yang meremehkan faraidh/kewajiban-kewajiban, maka ia akan diharamkan dari ma'rifah"[17].
        Jika anda melakukan ketaatan, bisa jadi anda tidak merasakan kenikmatannya dengan sebab kemaksiatan. Wahb bin Munabbih ditanya: "Apakah orang yang bermaksiat akan merasakan lezatnya ketaatan? Maka beliau menjawab: "Yang akan bermaksiat saja tidak"[18]
        Imam Ahmad mensifati seorang hamba yang terjatuh dalam kemaksiatan, ketika beliau sedang berjalan di lumpur dengan hati-hati, namun kaki beliau masuk (ke dalam lumpur tersebut), maka beliau mengatakan pada para sahabatnya: "Beginilah seorang  keadaan seorang hamba, ia senantiasa berhati-hati dari dosa, jika ia berada dalam lingkaran dosa, ia akan terjerumus ke dalamnya"[19].
        Maka berhati-hatilah anda dari dosa-dosa kecil. Al-Ghazali berpesan: "Satu dosa besar yang telah berlalu dan tidak diikuti dengan yang semisalnya, maka lebih memungkinkan untuk diampuni dari pada dosa kecil yang dilakukan terus menerus oleh seorang hamba. Ibarat air yang menetes pada batu secara terus menerus, bisa jadi akan mempengaruhinya, dan jika dituangkan air sekaligus padanya tidak memberikan pengaruh apa-apa."[20] Karena itulah Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan secara kontinyu walaupun sedikit."[21]
        Ibnul Qayyim berkata : "Terus menerus dalam kemaksiatan adalah maksiat. Tidak melakukan introspeksi terhadap kemaksiatan yang dilakukan, berarti sama dengan tetap dalam kemaksiatan, begitu pula jika ia merasa senang dan nyaman bermaksiat. Inilah alamat kebinasaan."[22]
        Makna الإصرار adalah sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muhasibi: "Yaitu adanya rasa kenikmatan bermaksiat dalam hati"[23].
          Al-Mawardi mengatakan: "Tertawanya orang yang mengakui akan dosanya lebih baik dari orang yang menangis tapi ….. pada Tuhannya. Tangisan penyesalan seseorang pada tuhannya adalah lebih baik dari tawanya orang yang mengakui perbuatan sia-sianya"


[1]   Tadhziib madaarij as-salikiin hal : 123
[2]   Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 4391, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Tirmidzi.
[3]  Ihya 'Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali 4/155
[4]  Dzammul Hawa oleh Ibnul Jauzi hal : 103
[5]  Dzammul Hawa oleh Ibnul Jauzi hal : 174
[6] Shahih al-Jami' ash-Shaghir 5/200
[7]  H.R Muslim 2702
[8] H.R Muslim 2702
[9] H.R Muslim 2747
[10]   Tahdzib Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim, diringkas oleh Abdul Mun'im Al-'Izzi, hal : 157
[11]   Hadits Shahih, lihat : An-Nawafikh Al-'Atirah oleh Imam Ash-Shafady hal : 86
[12]   Dzammul Hawa, Imam Ibnul Jauzi hal : 174
[13] Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir, 1/575
[14] Az-Zuhd, Imam Ahmad hal : 30
[15]  At-Taubah, Al-Muhasibi, hal : 52
[16]  Hadits Shahih, lihat : An-Nawafikh Al-'Atirah oleh Imam Ash-Shafady hal : 86
[17] Tadzkirah As-Sami' wal Mutakallim, Al-Kinani hal : 68
[18]  Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal : 51
[19]  Al-Adab Asy-Syar'iyyah, 1/97
[20]  Ihya 'Ulumudin al-Ghazali 4/195
[21]  Shahih al-Bukhari 6465
[22]  Tahdzib Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim, diringkas oleh Al-'Izzi, hal : 123
[23]  At-Taubah, Al-Muhasibi, hal : 55

0 comments:

Post a Comment